Oleh : Zainal Arifin

A. Manusia Sebagai Makhluk Sosial-Budaya

Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup menyendiri seorang diri, sehingga manusia sebagai individu cenderung akan ditekan dan menekan individu dirinya untuk selalu sesuai dengan kondisi dan diri orang lain. Olej sebab itu, maka dalam dalam kehidupannya manusia cenderung mengembangkan kehidupannya berdasarkan hasil pengetahuan dan pengalamannya secara bersama dalam kelompok-kelompok sosialnya. Artinya manusia tidak bisa hidup sendiri dan cenderung akan selalu melakukan sharing (berbagi bersama) dengan manusia yang lain. Proses sharing ini lalu diserap sebagai pengetahuan individual lewat proses belajar yang dilakukannya. Apabila hasil dari proses sharing ini terus menerus disosilisasikan dan dimantapklan akhirnya relatif membentuk pemahaman yang sama tentang sesuatu, relatif memiliki kesamaan pola pengetahuan, bahkan dalam banyak hal relatif memiliki artefak atau material yang sama.
Kesamaan antara individu satu dengan individu lainnya inilah yang kemudian dipolakan dalam kelompok sosialnya, sehingga akhirnya menjadi sebuah acuan dalam bertindak dan berkehidupan masing-masing manusia anggota kelompok tersebut. Dalam banyak literatur, sesuatu yang terpola atau sesuatu yang telah menjadi kebiasaan ini kemudian disebut dengan istilah budaya atau kebudayaan. Ini artinya sesuatu yang disebut dengan budaya apabila hal-hal yang dimiliki manusia tersebut sifatnya :
 sudah menjadi milik bersama dengan orang lain yang ada di kelompoknya. Masalahnya, konsep bersama dalam hal ini kecenderungannya akan dilihat secara berbeda oleh masing-masing ahli.
 Sesuatu itu didapat lewat proses belajar dan tidak didapat secara biologis atau genitas. Artinya, budaya sifatnya harus dipelajari dan tidak bisa diturunkan begitu saja dari generasi sebelumnya. Akal manusia akan selalu memproses pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar ini, sehingga budaya cenderung akan mengalami modifikasi dan perubahan, baik sifatnya lambat (evolusi) maupun cepat (revolusi).
Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, terpola dan jadi milik bersama inilah yang kemudian disebut dengan BUDAYA atau KEBUDAYAAN (culture). Jadi secara umum kebudayaan adalah segala sesuatu yang dijadikan milik bersama yang sifatnya sudah terpola atau menjadi kebiasaan bersama. Disini KEBUDAYAAN memiliki sifat-sifat antara lain :
 Pemilik kebudayaan tidak terbatas pada jumlah atau kuantitas manusianya, kebudayaan tidak dibatasi wilayah administratif, dan terkadang tidak dibatasi waktu.
 Ujud kebudayaan bisa sifatnya material (benda-benda) yang dibuat dan dimiliki manusia, bisa berbentuk perilaku dengan segala aktifitasnya, dan juga bisa berbentuk pengetahuan (kognitif) manusianya.
 Sifat kebudayaan bisa sifatnya dinamis (aktif) atau selalu berubah sesuai dengan perkembangan masyarakatnya, karena budaya adalah alat bagi manusia untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan yang dihadapi, sehingga budaya akan bersifat aktif. Budaya bisa juga bersifat statis (pasif), atau cenderung lambat berubah, karena budaya adalah alat pemelihara dan pelestari kehidupan manusia dalam membentengi terjadinya perubahan kondisi lingkungan yang mereka hadapi, sehingga manusia pemiliknya berusaha untuk tidak terbawa arus perubahan.
 Kebudayaan cenderung dijadikan PEDOMAN bagi manusianya untuk berperilaku dan berinteraksi. Untuk itu kebudayaan sendiri sebenarnya mengandung nilai-nilai, norma-norma, cognitive system, dan simbol-simbol bersama.
Seiring dengan perkembangan ilmu itu sendiri, maka dalam Antropologi konsepsi tentang budaya juga mengalami perkembangan. A.L.Kroeber dan C.Kluckhohn bahkan mensinyalir sudah lebih 160 konsep tentang kebudayaan yang dikembangkan para ahli. Dari sebanyak konsep budaya yang berkembang dalam Antropologi tersebut, dalam tulisan ini akan coba disarikan kedalam 3 kelompok pemikiran.

B. Kebudayaan dan Pengelompokan Sosial

1. Kebudayaan Menurut Aliran Pemikiran Klasik

Dalam pemikiran klasik ini, budaya lebih banyak dilihat sebagai sesuatu yang sifatnya menyeluruh (holistik). Artinya, segala sesuatu yang melekat dan ada dalam diri manusia dilihat sebagai aspek budaya. Secara epistemologi., pemikiran seperti ini didasari oleh aliran pemikiran positivisme yang memandang Antropologi sebagai ilmu yang tidak jauh berbeda dengan ilmu alam (natural science). Beberapa pendekatan dalam antropologi yang mendasari pemikirannya seperti ini terlihat dalam teori evolusionisme, struktural-fungsional, dan materialisme-budaya (Arifin, 1999). Masing-masing teori memiliki variasi tersendiri tentang konsep budaya, tetapi satu sama lainnya memiliki persamaan, dimana aliran pemikiran klasik ini memandang budaya pada level sistem sosial-nya. Artinya, kebudayaan lebih dilihat sebagai “tindakan-tindakan terpola” yang dimiliki secara bersama dalam kelompok sosialnya.
Dalam Antropologi, konsep budaya seperti ini misalnya dapat dilihat dalam konsep E.B. Tylor (1871) yang melihat budaya sebagai kompleksitas yang mencakup pengetahuan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain-lain berupa kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat. Konsep yang relatif sama juga terlihat misalnya dalam pemikiran Ralp Linton (1945) dimana budaya adalah keseluruhan cara hidup dari masyarakat itu sendiri, yang menurut Ember & Ember (1981) meliputi cara-cara beraktifitas, kepercayaan, sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas.
Dalam pemikiran yang relatif sama Brown (1952) melihat budaya sebagai suatu proses yang diperoleh melalui hubungan dengan orang lain atau melalui benda-benda seperti buku, atau karya seni, pengetahuan, kemahiran, kepercayaan, rasa dan sentimen. Di Indonesia, salah seorang pakar Antropologi yaitu Koentjaraningrat (1987) lalu mencoba menyadur berbagai konsep budaya tersebut menjadi sebuah konsep yang melihat budaya sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia lewat proses belajar.
Lewat konsep budaya seperti tersebut diatas, berarti kebudayaan berujud pada segala sesuatu yang melekat dan dilakoni oleh manusia sebagai proses belajar. Budaya bisa berujud; pengetahuan, material, perilaku, nilai-nilai, norma-norma, simbol-simbol dan lain-lain. Secara universal, Koentjaraningrat melihat ujud budaya tersebut menjadi 7 bagian yaitu (1) bahasa, (2) pengetahuan, (3) organisasi sosial, (4) tekhnologi, (5) sistem ekonomi, (6) religi, dan (7) kesenian.
Memandang konsep kebudayaan seperti ini membawa konsekuensi pada bentuk pengelompokan sosial, dimana dalam perkembangan kemudian wilayah budayanya selalu dikaitkan dengan pengelompokan etnik (suku-bangsa). Artinya, pemilik suatu budaya akan ditentukan lewat wilayah yang diakui oleh orang luar sebagai wilayah kelompok entiknya. Dengan demikian, kita bisa memahami apa yang disebut dengan budaya Minangkabau, yaitu budaya yang dimiliki oleh sekelompok orang yang asal usulnya atau secara geneologis berasal dari etnik Minangkabau dimana wilayahnya sebahagian besar terkonsentrasi di Propinsi Sumatera Barat daratan. Dengan demikian sekelompok orang beretnik Jawa yang sudah 4 keturunan di Sawahlunto-Sijunjung tetap akan dilihat sebagai pemilik budaya Jawa dan sulit untuk diterima sebagai orang yang memiliki Minangkabau. Hal yang sama akan berlaku untuk keturunan Tionghoa yang sudah berpuluh generasi tinggal di wilayah etnik tertentu, walaupun dari bahas yang digunakan, perilaku yang dikeluarkan bahkan nama yang dilekatkan sudah tidak memiliki identitas Tionghoa lagi.
Dengan menempatkan wilayah suatu budaya dalam kerangka etnik seperti ini, akhirnya mempengaruhi cara pandang terhadap kelompok sosial pemilik budaya itu sendiri, dimana mereka yang berasal dari etnik yang sama dianggap akan memiliki persamaan satu sama lain. Masalahnya, pandangan tentang budaya dan keseragamaan bagi anggota-anggota dalam kelompok sosial seperti ini akhirnya terjebak dalam pemikiran bahwa setiap individu yang berasal dari wilayah budaya yang sama akan memiliki ide, perilaku dan hasil karya bersama. Dalam kenyataannya, justru sering terjadi pengelompokan khas dalam masyarakat tersebut bahkan antara individu satu dengan yang lain sering terlihat memiliki ide, perilaku dan hasil karya yang berbeda.

2. Kebudayaan Menurut Aliran Kognitif

Pandangan kebudayaan sebagai sistem ide, secara umum berang¬kat dari pandangan fenomenologis yaitu salah satu aliran pemiki¬ran filsafat yang dipelopori oleh Edmund Husseel. Menurut Hus¬seel, fenomena bukanlah kesatuan yang sesungguhnya (no substan¬tial unity), dan juga tidak bersifat kausalitas (no causality). Fenomena adalah sesuatu yang sudah ada dalam persepsi dan kesada¬ran individu yang sadar tentang sesuatu hal (benda, situasi, dan lain-lain). Perbedaan perspektif dalam melihat sebuah fenomena ini, menye¬babkan cara pandang tentang sebuah kebudayaan juga berbeda. Kalau dalam pemikiran positivisme, kebudayaan lebih ditekankan pada sistem sosial (social system), maka kebudayaan dalam perspektif pemikiran fenome¬nologis, kebudayaan lebih ditekankan pada sistem ide, sehingga sistem ide atau gagasan inilah yang mengendalikan perilaku manusia di dalam sistem sosialnya.
Kesatuan sistem ide yang menaungi dan mempedomani manusia dalam bertindak dan berprilaku inilah yang kemudian dianggap sebagai sistem budaya (cultural system), sementara sistem sosial (social system) dan hasil karya berbentuk material (arte¬fact system) lebih dilihat sebagai hasil dari kebudayaan. Kebu¬dayaan dalam pandangan ini berarti adalah sebagai sistem aturan (Frake, 1964), pola-pola bagi kelakuan (Keesing and Keesing, 1981) dan “alat” untuk menafsirkan fenomena yang dihadapinya, sebagaimana dijelaskan oleh Goodenough bahwa … culture is not a material phenomenon; it does not consist of things, people, behavior, or emotions. Culture is rather an organization of these things. it is the form of things that people have in mind, their models for perceiving, relating, and otherwise interpreting them (Keesing: 1981).
Sistem pengetahuan sebagai sebuah kebudayaan adalah milik bersama, yang dikomunikasikan pada setiap individu lewat proses belajar, baik lewat pengalaman, interaksi sosial maupun interaksi simbolis. Luasnya cakupan sebuah kebudayaan, dengan demikian tidak akan mampu diserap secara keseluruhan oleh individu-indivi¬du pemilik kebudayaan tersebut. Perbedaan psikologis, pola asuh, interaksi yang dilakukan, dan tingkat kemampuan dalam menyerap pengetahuan pada setiap individunya, membuat pengetahuan yang dimiliki setiap individu akan perbedaan. Perbedaan ini berimplik¬asi pada model-model pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak secara keseluruhan akan dijadikan pedoman atau pegangan, tetapi dalam penggunaannya biasanya hanya berpedoman pada salah satu atau sejumlah model saja. Pemilihan model-model pengetahuan sebagai pedoman dalam bertindak ini secara selektif disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang dihadapi. Model-model penge¬tahuan tertentu yang dimiliki oleh masing-masing individu pemilik kebudayaan tersebut sering disebut sebagai pengetahuan budaya.
Beberapa konsep kebudayaan yang menempatkan kebudayaan sebagai sistem ide selain Goodenough di atas, diantaranya juga terlihat dalam konsep kebudayaan Spradley, Suparlan, dan Budhi¬santoso berikut. Menurut Spadley (1979: 5), kebudayaan refer to the acquired kenowledge that people use to interpret experience and generate social behavior. Dalam pemikiran yang relatif sama, Parsudi Suparlan (1980: 8) melihat kebu¬dayaan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang dipergunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi kerangka landasan bagi mewujud¬kan dan terwujudnya kelakuan.
Hal yang sama juga dilihat oleh Budhisantoso (1987: 232), dimana menurutnya, kebudayaan disamping sebagai sistem pengeta¬huan, juga memuat sistem nilai dan keyakinan. Menurut Budhisanto¬so, kebudayaan adalah sistem nilai, gagasan dan keyakinan yang mendominasi cara pendukungnya melihat, memahami, dan memilah-milah gejala yang dilihatnya dan merencanakan serta menentukan sikap dan perbuatan selanjutnya. Kebudayaan sebagai pendorong dominasi pola tingkah laku anggota masyarakat pendukungnya dapat pula diartikan sebagai “pengenal” yang membedakan kelompok sosial yang satu terhadap lainnya, walaupun dalam kenyataannya tidak sesederhana anggapan sedemikian.
Menempatkan konsep kebudayaan seperti ini membawa konsekuensi bahwa kelompok-kelompok sosial pemilik budaya demikian tidak lagi terikat oleh pengelompokan etnik, tetapi lebih ditekankan pada pola pemahaman yang relatif sama tentang sesuatu (objek). Artinya akibat pola interaksi yang berlangsung secara terus menerus, membuat sharing pengalaman dan pengetahuan antar individu juga semakin intensif. Hal ini akhirnya membentuk pengelompokan khas manusia-manusia yang terlibat di dalamnya tanpa melihat dan menekankan asal usul dan geneologis dari anggotanya sebagaimana dilihat oleh kelompok klasik sebelumnya.
Berangkat dari konsep budaya sebagai kognitif, akhirnya pengakuan akan keberadaan kelompok khas sub-etnik memungkinkan terjadi, pengakuan akan adanya akulturasi dan heterogenitas asal usul juga memungkinkan. Disini kita bisa mengatakan ada budaya mahasiswa (walaupun mahasiswa tersebut berasal dari berbagai etnik), ada budaya birokrasi yang dilekatkan pada sekelompok orang dengan ciri-ciri pelayanan publik khas tertentu (walaupun mereka mungkin tidak bekerja di birokrasi pemerintahan), ada budaya kemiskinan (dan istilah ini memungkinkan juga dilekatkan juga pada orang-orang kaya tertentu), ada budaya waria yang merujuk pada sekelompok orang dengan ciri-ciri dan kognitif tertentu. Contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa kelompok-kelompok sosial pemilik budaya dalam kerangka konsep “budaya sebagai kognitif” menunjukkan bahwa terjadi penekanan bahwa wilayah pemilik budaya tidak ditentukan oleh kelompok etnik tetapi lebih pada wilayah kognitifnya.
Kesulitan akan muncul apabila upaya menemukan wilayah pemilik budaya dalam kerangka kognitif ini dalam konteks adminsitratif. Kalau pemilik budaya dalam kerangka klasik sebelumnya terlihat jelas dengan mengacu pada daerah pusat asal usul, maka wilayah pemilik budaya kognitif ini menjadi sangat relatif karena wilayahnya tidak lagi mengacu pada areal administratif, tetapi lebih pada sarana-sarana sosial sebagai areal interaksi mereka. Kita kesulitan mengatakan dimana sebenarnya wilayah adminsitratif budaya mahasiswa, karena kampus hanyalah sebagai sarana interaksi yang intensif. Lalu apakah seorang mahasiswa ketika pergi ke pasar (ke luar kampus) tidak lagi menunjukkan budaya mahasiswanya, sulit diprediksi. Apakah wilayah budaya birokrasi hanya ada di kantor pemerintahan, dalam kenyataannya tidak selalu kantor-kantor pemerintahan memiliki budaya birokrasi, dan selalu budaya birokrasi hanya ada di kantor pemerintahan karena beberapa kantor swasta dan organisasi — misalnya LSM (NGO) — justru penganut budaya birokrasi juga.

3. Kebudayaan Menurut Aliran Interpretatif

Dalam Antropologi, kajian interpretatif (tafsiriah) tampak paling menonjol dalam Antropologi Simbolik, Antropologi Hermenuetik dan Antropologi Post-modernisme. Pandangan ahli antropologi tentang simbol pada dasar¬nya bisa ditelusuri dari aliran pemikiran hermenutik yang sedikit banyak sangat mempengaruhinya. Prinsip utamanya adalah bahwa fenomena sosial-budaya adalah sebagai sebuah teks yang dapat dibaca (Ricoeur, 1979; Tylor, 1987), dan tujuan telaahnya adalah untuk “membaca dan memahami” (understanding) fenomena sosial-budaya, bukan hanya sekedar “menjelaskan” (explaining). Oleh karena itu dalam kajiannya lebih menekankan pada usaha untuk mengungkap makna-makna dari berbagai fenomena simbolik dalam masyarakat, entah itu berupa perilaku, benda-benda ataupun penge¬tahuan atau ide-ide masyarakat.
Berangkat dari pandangan diatas, maka konsepsi tentang budaya sedikit berbeda dengan pemikiran sebelumnya. Dalam pemikiran antropologi klasik, budaya ada dalam sistem sosial yang berujud perilaku dan tindakan terpola, dan dalam antropologi kognitif, kebudayaan ada dalam sistem ideasional, sementara dalam pemikiran para ahli penganut aliran interpretatif, kebudayaan terbentuk sebagai sebuah proses timbal balik antara sistem tindakan, sistem artefak atau material dan sistem ideasional. Jadi kebudayaan tidak berada dalam diri manusia, tetapi hanya ada diantara manusia-manusia anggota kelompok sosialnya. Dalam hal ini, manusia selalu berusaha menciptakan simbol-simbol dalam pola interaksinya, sekaligus juga mampu merubah dan memodifikasi simbol-simbol tersebut. Oleh sebab itu, kebudayaan yang berkembang diantara individu-individu lebih berujud seperti sebuah teks yang dipakai sebagai panduan, pedoman dalam memahami tindak-tindakan manusia-manusia lain tersebut.
Dalam Antropologi, tokoh-tokoh yang cukup menonjol dalam penggunaan aliran pemikiran interpretatif (simbolik) ini adalah Clifford Geertz dan Victor Turner. Dalam kerangka pemikiran Geertz (1992), kebudayaan lebih dilihat sebagai……pola-pola makna yang diwariskan secara historis yang terujud sebagai simbol-simbol……yang digunakan manusia untuk berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang kehidupan dan sikap-sikapnya terhadap kehidupan.
Dalam konteks ini, Geertz (1992) melihat simbol sebagai an object / act / quality / or relation which serves as vehicle for a conception. Jadi simbol pada prinsipnya mempunyai sifat ganda, yang tidak hanya menyatakan sesuatu tetapi juga menyembunyikan sesuatu (revealing and concealing). Jadi dalam kerangka pemikiran Geertz, simbol lebih dilihat sebagai alat untuk membaca kebudayaan (teks) sekelompok orang. Sedikit berbeda dengan Turner lewat tulisannya The Forest of Symbol (1970) yang melihat simbol bukanlah sebagai wahana atau “teks” untuk membaca kebudayaan, tetapi simbol lebih dilihat sebagai pelaksana (operators) dalam proses sosial yang secara esensial kemudian menghasilkan transformasi sosial (Ortner, 1984). Jadi menurut Turner, simbol itu sendirilah yang sebenarnya kebudayaan, sehingga membaca dan menginterpretasi simbol-simbol berarti membaca dan menginterpretasi kebudayaan itu sendiri.
Pemilik budaya ini, dalam kaca mata aliran interpretatif adalah sekelompok orang yang saling berinteraksi dan saling memahami satu sama lain akan tindakan, pemikiran, material, dan tanda-tanda yang dikeluarkan. Dengan demikian pemilik budaya disini tidak terikat dengan suatu etnik yang sama, atau kognitif yang sama, tetapi lebih ditekankan pada pola pemahamaan terhadap simbol-simbol yang sama antara seseorang dengan orang lain dalam interaksi yang dilakukan. Kewilayahan dari suatu budaya dalam kerangka interpretatif ini juga semakin cair, dimana batas-batas wilayah adminsitartfi semakin tidak jelas, karena tempat dan sarana menjadi tidak penting. Justru yang dipentingkan hanyalah pemaknaan itu sendiri. Begitu juga halnya dengan jumlah (kuantitas) kelompok pemilik budaya juga semakin tidak penting, yang dipentingkan justru pada pendalaman terhadap makna yang dimiliki (kualitas). Pada beberapa kasus akan sangat memungkinkan jumlah kelompok menjadi sangat kecil, bahkan secara ekstrim antara dua orang individu manusia bisa menciptakan budaya tersendiri.
Hal lain juga menunjukkan bahwa perubahan terhadap budaya seperti ini juga menjadi sangat dinamis, karena pemaknaan terhadap simbol yang sama memungkinkan akan terjadi perubahan sesuai dengan konteks waktu, tempat dan pelakunya. Penggunaan dan pemaknaan terhadap kata-kata yang dipakai sebagai bahasa seseorang menjadi contoh yang gampang dipahami untuk menjelaskan begitu dinamisnya budaya tersebut. Ketika si Kempot (penyanyi) menyebut “Cicak Rowo”, maka pemaknaan terhadap kata tersebut mengacu pada sejenis binatang burung, tetapi ketika si Marwoto (pelawak) mengatakan kata yang sama, maka pemaknaannya bisa berubah menjadi aktifitas sexsual. Pemaknaan terhadap “Cicak Rowo” ini juga akhirnya berubah ketika si Polan menyebutnya berkali-kali ketika melihat perempuan berpinggung besar dan seksi karena acuannya berubah menjadi bagian tertentu dari tubuh wanita. Ini menunjukkan bahwa pemaknaan yang sama terhadap simbol — bahasa disini dilihat sebagai simbol — menjadi budaya sebagai kumpulan simbol-simbol menjadi sangat dinamis dan bis aterbentuk dan berubah dengan cepat.

C. Sumber Referensi

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. Antropologi di Indonesia oleh Ahli Antropologi Indonesia: Perspektif Epistemologi. Makalah Lokakarya Perilaku Manusia Dibahas dari Perspektif Kajian Ilmu Sosiologi, Antropologi, Psikologi dan Sjerah di Indonesia. UGM Yogyakarta 22 Agustus 1994.
Alam, Bachtiar. “Globalisasi dan Perubahan Budaya: Perspektif Teori Kebudayaan” dalam Antropologi Indonesia No.54/XXI. 1998.
Arifin, Zainal. “Konsep Kebudayaan dalam Antropologi” dalam Jurnal Antropologi No.3/II. 1999.
Brown, Radcliffe A.R. Structure and Function in Primitive Society. Essays and Addresses. London: Routledge & Kegan Paul. 1952.
Budhisantoso. “Pembangunan Berwawasan Lingkungan” dalam Lingkungan: Sumberdaya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Jakarta: UI Press. 1987. hal. 230-237.
Ember & Ember. “Konsep Kebudayaan” dalam T.O.Ihromi (eds). Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia. 1981. hal. 13-32.
Geertz, Clifford. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius. 1992.
Irianto, Sulistyowati. “Konsep Kebudayaan Koentjaraningrat dan Keberadaannya dalam Paradigma Ilmu-Ilmu Sosial” dalam Masinambow (eds) Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1997.
Keesing, Roger M. “Theory of Culture” dalam Ronald W. Casson (eds). Language, Culture and Cognition. Anthropological Perspectives. New York: MacMillan Publishing Co.Inc. 1981. hal. 42-66.
Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru. 1987.
Ortner, Sherry B. “Theory in Anthropology since the Sixties” dalam Comparative Studies in Society and History. An International Quarterly Vol. 26/1. Cambridge: Cambridge University Press. 1984. hal.126-166.
Spadley, James. The Ethnographic Interview. New York: Holt, Rinehart and Winston. 1979.
Suparlan, Parsudi. “Manusia dan Kebudayaan dan Lingkungan. Perspektif Antropologi Budaya” dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia No 1-3/IX. 1980. hal. 236-240.
Turner, Victor. 1970. The Forest of Symbol: Aspects of Ndebu Ritual. New York: Cornell University Press.