Oleh : Zainal Arifin

A. PENDAHULUAN

Permasalahan lingkungan adalah permasalahan klasik yang sudah lama dihadapi oleh banyak masyarakat di manapun juga. Ia tidak saja menjadi masalah bagi masyarakat yang cenderung menjadi sasaran “keganasan” lingkungan itu sendiri, tetapi sekarang sudah menjadi masalah global yang mengenai semua orang, baik bagi pemerhati masalah lingkungan, birokrasi pengambil kebijakan, peneliti lingkungan, bahkan juga sering menjadi bahan kritik dan negosiasi bagi negara-negara lain yang memiliki kepentingan di negara bersangkutan. Ini menunjukkan bahwa kerusakan dan kelestarian lingkungan atau secara khusus sebuah ekosistem tertentu pada prinsipnya akan selalu membawa akibat dan dampak lanjutan (double impact) langsung ataupun tidak langsung pada elemen-elemen lain dari suatu kehidupan.
Telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat baik bersifat individual maupun bersifat kelembagaan untuk mencoba mengatasi permasalahan lingkungan tersebut, namun sampai sekarang ada kecenderungan upaya tersebut tidak banyak mengalami kemajuan yang berarti. Tudingan akibat ketidak berhasilan tersebut kecenderungannya selalu bermuara pada masyarakat sebagai pelaku yang dianggap mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan. Pandangan ini disatu sisi tidak bisa disalahkan karena masyarakat adalah pelaku yang berhadapan langsung dengan tudingan eksploitasi tersebut. Namun disisi lain pengambil kebijakan dan lembaga penanganan kerusakan lingkungan yang ada cenderung tidak memahami secara baik mengapa pola aktifitas masyarakat tersebut sedemikian rupa. Akibatnya pola penanganan lingkungan yang dilakukan cenderung lebih bersifat sementara dan tidak berjalan secara maksimal.
Untuk itu maka peran antropologi khususnya dan ilmu sosial-budaya pada umumnya dalam menjabarkan dan menggambarkan realitas pelaku lingkungan dan kaitannya dengan fenomena lingkungan itu sendiri menjadi penting. Dalam antropologi sebenarnya telah lama berkembang pemikiran bahwa budaya menjadi peran penting dalam aktifitas manusia dalam memperlakukan lingkungannya yang kemudian karena dipengaruhi persepktif atau paradigma pemikiran yang berkembang, maka muncul beberapa cara pandang yang juga berbeda. Tulisan ini mencoba menjabarkan beberapa cara pandang dan pemikiran teoritis dalam kajian antropologi ekologi.

B. BEBERAPA PEMIKIRAN DALAM ANTROPOLOGI EKOLOGI

Ada dua hal yang cukup dominan mempengaruhi pola penggunaan dan pengolahan lingkungan yaitu (1) kualitas dan kuantitas manusianya, (2) Sistem Pengelolaan (Tekhnologi dan kebijakan). Kualitas disini sangat berkaitan dengan pola pemahaman manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya, sedangkan kuantitas berkaitan dengan jumlah dan populasi manusia tu sendiri dalam ekosistem tersebut. Dengan bertambahnya populasi dan melalui pemahaman yang dimilikinya, maka disatu sisi, manusia selalu terus berusaha menaklukkan dan memodifikasi lingkungan yang dihadapi sehingga aktifitas kehidupan dapat terus dilanjutkan. Namun disini lain, perubahan kondisi yang terjadi baik dari aspek manusia maupun dari aspek lingkungannya, akhirnya membuat manusia terus berusaha menyesuaikan dirinya dengan kondisi lingkungan yang dihadapi tersebut.
Masalahnya, manusia bukanlah makhluk biologis saja, tetapi dalam perkembangan pemikiran kemudian para ahli antropologi ekologi juga melihat manusia juga sebagai sosial sekaligus simbolik yang terkait dengan rasa, status dan simbol-simbol pristise antar sesamanya. Ini misalnya ditunjukkan bahwa manusia tidak hanya sekedar butuh makan, tapi makan yang bergengsi. Manusia tidak sekedar butuh rumah berlindung, tapi rumah yang bergengsi. Menurut Bennett (1976), ini sangat terkait dengan semakin dipisahkannya oleh manusia antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Kebutuhan (needs) terkait dengan upaya pemenuhan hidup yang secara langsung terkait dengan aktifitas hidup sehari-hari, seperti pemenuhan akan lapar dan haus, perlindungan diri, kesehatan, dan lain-lain. Sementara keinginan (wants) lebih terkait pada kebutuhan yang sifatnya tidak langsung, tapi lebih sebagai kebutuhan yang sifatnya simbolik, seperti kebutuhan akan mobil lebih dari satu, kebutuhan akan rumah tempat berlindung yang megah, kebutuhan akan pakaian yang hanya sekedar pajangan, dan lain-lain.
Oleh sebab itu upaya memahami perilaku masyarakat dalam hubungannya dengan lingkungan, pada prinsipnya didasari dari konsepsi-konsepsi yang mereka miliki tentang lingkungan itu sendiri. Dengan asumsi ini berarti, untuk memahami mengapa masyarakat berprilaku tertentu terhadap lingkungan, kita tidak bisa meninggalkan pemahaman terhadap konsepsi-konsepsi tersebut, karena tindakan pengelolaan lingkungan terujud sebagai hasil konsepsi yang mereka miliki. Menurut Bennett (1976) ataupun Ahimsa-Putra (1985), konsepsi itu sendiri ada dalam sistem kognitif individu-individu anggota kelompoknya, yang memuat berbagai klasifikasi yang berhasil menciptakan keteraturan atas situasi disekelilingnya sehingga akhirnya mewujudkan tindakan adaptif tertentu.
Pandangan ini berangkat dari pemikiran kelompok etnoekologi yang menempatkan kognitif (pengetahuan) sebagai dasar utama dalam pembentukan prilaku manusianya. Artinya lingkungan efektif (lingkungan yang terujud di lapangan) pada prinsipnya akan diinterpretasi dan dimaknai secara berbeda oleh masyarakat yang berbeda. Akibatnya maka prilaku yang diujudkan terhadap lingkungan yang sama, tentunya akan diujudkan secara berbeda antar masyarakatnya. Berangkat dari pemikiran inilah, kenapa pola hubungan antara kelompok masyarakat tertentu (insider) terhadap lingkungannya sering ditanggapi secara berbeda — bahkan cenderung negatif — oleh kelompok lain (outsider).
Perlunya memahami secara mendalam pola-pola sosial-budaya masyarakat lokal (insider) akhirnya menjadi penting. Hal ini berangkat dari pemikiran bahwa perilaku pada prinsipnya mudah mengalami perubahan, setiap perilaku pada prinsipnya bisa dimanipulasi oleh setiap pelakunya. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap pola dari setiap tindakan serta pola yang mengatur tindakan akhirnya menjadi penting dilakukan. Pola-pola seperti ini secara konseptual disebut dengan “pola dari” (pattern for) dan “pola bagi” (pattern of). Pola dari atau disebut juga pola aktual atau model dari yang mengacu pada pola-pola perilaku yang dikeluarkan seseorang, sementara pola bagi atau disebut juga pola ideal atau model bagi mengacu pada pola-pola yang mengatur mengapa perilaku seseorang sedemikian rupa (Keesing, 1981).
Akan tetapi cara pandang etnoekologi yang berupaya memahami pola-pola tersebut saja tidak cukup, tetapi juga harus juga menemukan bagaimana hubungan kerja antara elemen-elemen kehidupan kelompok (hubungan fungsional), dan bagaimana hubungan-hubungan simbolik yang terjadi. Disini maka cara pandang ekologi prosesual atau ekologi transisional (ecological transition) juga perlu digunakan. Menurut pemikiran prosesual ini, tindakan-tindakan yang dimunculkan individu dan kelompok tidak selalu akan memuaskan tindakan individu lain atau kelompok lain dan lingkungannya, begitu juga sebaliknya tindakan yang dilakukan secara kelompok (sosial) belum tentu memuaskan di tingkat individu anggota kelompok serta lingkungannya.
Menurut Bennett (1976), tindakan individu atau kelompok akan selalu mengutamakan keinginan (wants) dan kebutuhan (needs) individu atau kelompok tersebut. Dengan demikian maka upaya menjaga keseimbangan lingkungan oleh individu dan kelompok bukanlah prioritas pertama, tetapi menjadi prioritas kedua atau selanjutnya. Namun demikian, tindakan manusia tersebut akan selalu mengimplikasikan sifat kompromi (conformity) , yaitu suatu arahan yang sesuai dengan kondisi internal dan eksternal lingkungan (alam dan sosial). Oleh sebab itu, maka tindakan manusia terhadap lingkungan tidak muncul begitu saja tetapi melalui suatu proses yang bertahap yang meliputi pemilihan-pemilihan alternatif sebelum kemudian dilakukan pengambilan keputusan, yang berkenaan dengan mungkin atau tidak mungkinnya tingkah laku tersebut diterapkan menurut kontrol dan proses-proses sistemik yang melingkupinya.
Hal penting lainnya yang juga perlu diperhatikan bahwa secara biologis, psikis, dan kognitif setiap individu memiliki ciri-ciri khas dan kemampuan yang berbeda, dan cenderung selalu berkembang atau mengalami perubahan, maka menurut von-Liebenstein (1995) kebudayaan pun akan terus diproduksi oleh masyarakatnya sehingga dia selalu menyeseuaikan dan sesuai dengan tatanan lingkungan alam dan masyarakatnya. Untuk itu maka pemahaman terhadap konsepsi-konsepsi yang berkembang dalam masyarakat tentang lingkungannya juga tidak bisa bersifat statis, namun perlu dilakukan pemahaman ulang secara terus menerus.

C. Kesimpulan

Ancaman akan kerusakan lingkungan semakin tinggi akibat semakin tingginya tingkat pertumbuhan jumlah manusia, serta semakin tingginya penggunaan tekhnologi yang berdampak langsung maupun tidak langsung pada kerusakan lingkungan itu sendiri. Ancaman ini akan semakin tinggi apabila kebijakan dan pengambilan keputusan oleh pihak-pihak terkait justru lebih menonjolkan pemahaman akan kerusakan tersebut lewat kacamata kelompoknya sendiri (outsuder) tanpa mampu memahami konsepsi-konsepsi yang berkembang dalam masyarakat lokal (insider).
Menciptakan kelestarian lingkungan yang berangkat dari kacamata masyarakat budaya lokal dengan demikian berarti perlu memahami bagaimana pola hubungan antara manusia dan masyarakat lokal dengan lingkungannya. Lewat pemikiran etnokologi yang mencoba memahami pola-pola hubungan manusia dengan lingkungan diharapkan akan mampu mencapai tujuan tersebut diatas. Dalam pemikiran etnoekologi langkah penting yang perlu dilakukan adalah : (1) Memahami bagaimana masyarakat lokal memandang dan mempersepsikan lingkungan yang mereka hadapi. Lewat cara memahami konsepsi atau pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat, lalu kita bisa coba memahami mengapa perilaku masyarakat terhadap lingkungan muncul sedemikian rupa. (2) Karena cara pandang atau persepsi yang berkembang cenderung tidak tetap (selalu berubah) seiring perkembangan masyarakat itu sendiri, maka upaya menemukan “pola-pola tindakan” dan “pola-pola kognitif” harus diutamakan dalam memahami mengapa dan bagaimana masyarakat memperlakukan lingkungan tersebut.
Perkembangan masyarakat juga telah mempengaruhi peran dan fungsi individu sebagai anggota suatu masyarakat. Dalam hal ini individu tidak lagi secara penuh “terikat” dengan sosialnya, tetapi lebih menjadi individu yang “bebas” meujudkan tindakan dan menginterpretasi kondisi yang dihadapi. Oleh sebab maka cara pandang ekologi prosesual juga menjadi penting. Disini setiap individu dianggap memiliki kebebasan terhadap lingkungannya dalam upaya memuaskan keinginan (wants) dan kebutuhannya (needs). Namun sebagai anggota kelompoknya, agar tetap “diakui” secara sosial, maka setiap individu cenderung akan bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang dianggap “pantas secara budaya”.
Berangkat dari pemikiran tersebut, maka, tugas yang dipentingkan bukan melihat pada apa yang terjadi atau apa yang dimiliki oleh masyarakat, tetapi lebih melihat pada mekanisme dan proses yang berlangsung dalam masyarakat. Dalam hal ini yaitu melihat rangkaian dan keterkaitan antar peritiwa yang terjadi, bukan melihat suatu peristiwa belaka, karena peristiwa tidak menunjukkan arti apa-apa tanpa membacanya lewat rangkaian dengan peristiwa-peristiwa lainnya. Dengan kata lain yang dipahami adalah keragaman, konsensus atau kesepakatan, kontinuitas yang terjadi dalam kelompok masyarakat tersebut. Keragaman dipahami untuk membaca rangkaian dan keterkaitan dari suatu peristiwa, karena dengan keragaman diasumsikan kontinuitas atau dinamika masyarakat bisa dikembangkan. Konsensus dipahami dalam konteks pengambilan keputusan untuk “tidak melakukan” atau “mau melakukan” sesuatu, mereproduksi konsep-konsep baru sesuai dengan keinginan (want) dan kebutuhan (needs) setiap individu anggotanya. Dalam konteks ini, pengambilan keputusan cenderung akan dipengaruhi oleh interpretasi, pemaknaan, dan pertimbangan-pertimbangan sosial tertentu untuk kemudian diambil keputusan tertentu.

D. Daftar Bacaan

Arifin, Zainal. 1998. “ Hubungan Manusia dan Lingkungan dalam Kajian Antropologi Ekologi” dalam Jurnal AntropologiEdisi I. No.1. Padang: Laboratorium Antropologi FISIP Universitas Andalas.
Arifin, Zainal. 1998. Talang: Sistem Klasifikasi dan Tindakan Adaptif Masyarakat dalam Proses Pembentukan Pemukiman di Suku-Bangsa Ogan Lampung Utara. Tesis pada Program Antropologi Pasca Sarjana Universitas Gadjahmada, Yogyakarta.
Arifin, Zainal. 2002. Peranan Tokoh-Tokoh Masyarakat dalam Pelestarian Hutan TNKS. Kasus: Masyarakat Serampeh, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi. Sungai Penuh : Component A (Park Management Kerinci Seblat) – ICDP.
Ahimsah-Putra, Heddy Shri. 1985. “Etnosains dan Etnometodologi” Sebuah Perbandingan” dalam Masyarakat Indonesia Jilid XII / 2. Jakarta: LIPI.
Ahimsah-Putra, Heddy Shri. 1997. “Air dan Sungai Ciliwung” dalam Prisma No.1. Jakarta: LP3ES.
Bennett, John W. 1976. The Ecological Transition, Cultural Anthropology and Human Adaptation. Oxford. Pergamon Press.
Dove, Michael R. 1981. “Studi Kasus Tentang Sistem Perladangan Suku Kuntu’ di Kalimantan” dalam Prisma No.4. Jakarta: LP3ES.
Geertz, Clifford. 1976. Involusi Pertanian. Jakarta: Bhratara.
Keesing, Roger M. 1976. “Theories of Culture” dalam Ronald W Casson (eds). Culture and Cognition. Anthropological Perspectives. New York: MacMillan Publishing Co.Inc.
Kumolo, Imanuel. 1987. “Peranan Alang-Alang di Proyek Transmigrasi Baturaja” dalam Michael R Dove. Manusia dan Alang-Alang di Indonesia. Yogyakarta: UGM Press.
Wolf, Eric. 1983. Petani. Suatu Tinjauan Antropologi. Jakarta: Radjawali Press.
von-Liebenstein, G.W. 1995. “Adaptation and Development: Interdiciplinary Perspective on Subsistence and Sustainablity in Developing Countries” dalam : Kusnaka Adimihardja., Ade M. Kramadibrata., Oekan S. Abdullah., dan Haryono S. Martodirdjo. Adaptation and Development: Interdiciplinary Perspective on Subsistence and Sustainablity in Developing Countries. UPT Indonesian Resource Center for Indegenous Knowledge Padjadjaran University, Bandung.