Oleh : Zainal Arifin

A. PENDAHULUAN

Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup menyendiri seorang diri, sehingga manusia sebagai individu cenderung akan ditekan dan menekan individu dirinya untuk selalu sesuai dengan kondisi dan diri orang lain. Oleh sebab itu, maka dalam dalam kehidupannya manusia cenderung mengembangkan kehidupannya berdasarkan hasil pengetahuan dan pengalamannya secara bersama dalam kelompok-kelompok sosialnya. Artinya manusia tidak bisa hidup sendiri dan cenderung akan selalu melakukan sharing (berbagi bersama) dengan manusia yang lain. Proses sharing ini lalu diserap sebagai pengetahuan individual lewat proses belajar yang dilakukannya. Apabila hasil dari proses sharing ini terus menerus disosilisasikan dan dimantapklan akhirnya relatif membentuk pemahaman yang sama tentang sesuatu, relatif memiliki kesamaan pola pengetahuan, bahkan dalam banyak hal relatif memiliki artefak atau material yang sama.
Kesamaan antara individu satu dengan individu lainnya inilah yang kemudian dipolakan dalam kelompok sosialnya, sehingga akhirnya menjadi sebuah acuan dalam bertindak dan berkehidupan masing-masing manusia anggota kelompok tersebut. Dalam banyak literatur, sesuatu yang terpola atau sesuatu yang telah menjadi kebiasaan ini kemudian disebut dengan istilah budaya atau kebudayaan. Ini artinya sesuatu yang disebut dengan budaya apabila hal-hal yang dimiliki manusia tersebut sifatnya :

1. sudah menjadi milik bersama dengan orang lain yang ada di kelompoknya. Masalahnya, konsep bersama dalam hal ini kecenderungannya akan dilihat secara berbeda oleh masing-masing ahli.
2. Sesuatu itu didapat lewat proses belajar dan tidak didapat secara biologis atau genitas. Artinya, budaya sifatnya harus dipelajari dan tidak bisa diturunkan begitu saja dari generasi sebelumnya. Akal manusia akan selalu memproses pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar ini, sehingga budaya cenderung akan mengalami modifikasi dan perubahan, baik sifatnya lambat (evolusi) maupun cepat (revolusi).

Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, terpola dan jadi milik bersama inilah yang kemudian disebut dengan BUDAYA atau KEBUDAYAAN (culture). Jadi secara umum kebudayaan adalah segala sesuatu — bisa berbentuk material, perilaku, nilai-nilai, kognitif ataupun simbolik) yang dijadikan milik bersama yang sifatnya sudah terpola atau menjadi kebiasaan bersama. Disini KEBUDAYAAN memiliki sifat-sifat antara lain :

1. Pemilik kebudayaan tidak terbatas pada jumlah atau kuantitas manusianya, kebudayaan tidak dibatasi wilayah administratif, dan terkadang tidak dibatasi waktu.
2. Ujud kebudayaan bisa sifatnya material (benda-benda) yang dibuat dan dimiliki manusia, bisa berbentuk perilaku dengan segala aktifitasnya, dan juga bisa berbentuk pengetahuan (kognitif) manusianya.
3. Sifat kebudayaan bisa sifatnya dinamis (aktif) atau selalu berubah sesuai dengan perkembangan masyarakatnya, karena budaya adalah alat bagi manusia untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan yang dihadapi, sehingga budaya akan bersifat aktif. Budaya bisa juga bersifat statis (pasif), atau cenderung lambat berubah, karena budaya adalah alat pemelihara dan pelestari kehidupan manusia dalam membentengi terjadinya perubahan kondisi lingkungan yang mereka hadapi, sehingga manusia pemiliknya berusaha untuk tidak terbawa arus perubahan.
4. Kebudayaan cenderung dijadikan PEDOMAN bagi manusianya untuk berperilaku dan berinteraksi. Untuk itu kebudayaan sendiri sebenarnya mengandung nilai-nilai, norma-norma, cognitive system, dan simbol-simbol bersama.

Dalam penelitian Antrropologi, konsepsi tentang budaya seperti ini selalu mewarnai dalam setiap penelitian yang dilakukan. Artinya pandangan tentang budaya tertentu akan selalu mewarnai bentuk proposal dan laporan penelitian yang dilakukan. Tulisan ini mencoba memahami sejauhmana posisi tinjauan pustaka, kerangka pemikiran dan teoritis dalam proposal penelitian. Secara lebih khusus, tulisan ini akan diarahkan pada penempatan kerangka teori tertentu sesuai dengan kerangka pemikiran peneliti.

B. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN
DAN KONSEPTUAL

Tinjauan Pustaka dalam sebuah proposal adalah ulasan hasil bacaan si peneliti tentang berbagai literatur yang dimiliki berkenaan dengan fokus penelitian yuang akan dilakukan. Sementara Kerangka Pemikiran lebih ditujukan pada bagaimana peneliti memandang fokus penelitian tersebut dalam kerangka berpikir tertentu, sehingga akan berpengaruh pada kerangka teoritis yang dipakainya. Dalam konteks ini Kerangka Teoritis (termasuk di dalamnya konseptual) adalah penggunaan teori-teori yang relevan dengan fokus penelitian dan kerangka pemikiran yang dibuat oleh si peneliti. Sebagai contoh :

Topik : Aktifitas Buruh di Perusahaan
Fokus : “Meneliti Aktifitas Arisan di kalangan Buruh
Pabrik di PT Lembah Karet”
Judul : “Buruh dan Sistem Arisan di Pabrik PT Lembah
Karet”
Tinjauan Pustaka : Cari, baca dan pahami literatur tentang : (1) Buruh, (2) sistem arisan, (3) konsep dan teori tentang Aktifitas Kerja Pabrik, dll
Kerangka Pemikiran (Struktural Fungsional) : Arisan dilihat sebagai alat dalam mengatasi permasalahan ekonomi keluarga, Sementara bagi pemilik pabrik, arisan dilihat sebagai alat pemersatu para buruh.
Kerangka Teoritis (Struktural Fungsional) : Arisan dilihat sebagai aktifitas timbal balik (resiprocity) sehingga secara fungsional menciptakan sistem tersendiri (cara pandang struktural-fungsional)
Kerangka Pemikiran (Kognitif) : Arisan dilihat sebagai kerangka kognitif yang berkembang dalam sebuah komunitas (kelompok) tertentu yang kemudian mempengaruhi pola aktifitas kesehariannya.
Kerangka Teoritis (Kognitif) : Arisan dilihat sebagai seperangkat sistem pengetahuan buruh untuk mengatasi berbagai permasalahan ekonomi secara komunal (cara pandang kognitif)
Kerangka Pemikiran (Simbolik) : Arisan dilihat sebagai alat kekuasaan Pemilik Pabrik untuk menekan Buruh agar tetap bertahan di pabrik tersebut, sebaliknya arisan adalah alat kekuasaan bagi buruh untuk tetap bertahan (menghindari PHK).
Kerangka Teoritis (Simbolik) : Arisan dilihat sebagai simbol kekuasaan (cara pandang simbolik
Kerangka Pemikiran (Strukturalisme Levi-Strauss) : Arisan dilihat sebagai nilai-nilai aplikatif yang sebenarnya mempunyai struktur tersendiri dalam nilai-nilai budaya komunitasnya.
Kerangka Teoritis (Strukturalisme Levi-Strauss) : Arisan dilihat sebagai aplikasi struktur nilai-nilai budaya komunitas (kelompok) tertentu sehingga dengan aktifitas tersebut bisa dibaca seperti apa nilai-nilai budaya komunitas tersebut (cara pandang strukturalisme Levi-Strauss)

1. Cara Pandang Struktural-Fungsional

Pemikiran Struktural Fungsional dalam Antropologi adalah salah satu cara pandang yang paling populer dan terus berkembang sampai sekarang, tidak saja berkembang dalam Antropologi, bahkan pada ilmu sosial pada umumnya. Dalam Antropologi tokoh-tokoh yang cukup populer antara lain Malinowski, Brown, Marcel Mauss, dan lain-lain disamping Durkheim dan Comte yang mewakili struktural-fungsional yang cukup pupoler dalam Sosiologi.
Pemikiran Struktural-Fungsional berasumsi bahwa berbagai fenomena yang berkembang dalam sebuah kelompok masyarakat pada prinsipnya saling berkait satu sama lain membentuk sebuah sistem, struktur dan jaringan sosial tertentu. Sistem adalah jalinan pengaruh-mempengaruhi antar elemen dalam kelompok sosial tertentu. Jaringan Sosial, adalah jalinan saling pengaruh mempengaruhi antar elemen dalam kelompok masyarakat (sosial) tersebut. Sementara Struktur lebih dilihat sebagai wadah dimana sistem dan jaringan sosial tersebut beroperasi atau menjalankan fungsinya.
Dalam konteks ini berarti masing-masing elemen akan selalu menjalankan fungsinya demi terjaganya keseimbangan sistem maupun struktur yang ada. Artinya apabila salah satu elemen tidak berfungsi maka sistem dan struktur akan terganggu, sehingga perlu adanya modifikasi dan proses adaptasi untuk membentuk keseimbangan kembali. Ada dua pemikiran yang berkembang dalam ilmu Sosial dalam melihat proses menjaga keseimbangan ini. Dalam pemikiran ahli struktural tertentu seperti Brown melihat bahwa apabila salah satu elemen tidak berfungsi, maka sistem dan struktur juga akan tidak berfungsi, hancurnya salah satu elemen (tidak berfungsi) maka sistem dan struktur juga akan hancur atau mengalami perubahan. Sementara ahli lain seperti Mauss, justru melihat bahwa apabila salah satu elemen tidak berfungsi, maka elemen lain akan muncul mengantikan elemen yang hilang, atau elemen yang telah ada mencoba (beradaptasi) untuk mengambil alih fungsi elemen yang hilang tersebut.
Berkenaan dengan konsep fungsi itu sendiri, banyak para ahli struktural-fungsional melihatnya sebagai kegunaan atau pengaruh elemen terhadap elemen lain atau terhadap sistem dan struktur itu sendiri. Akan tetapi dasar ber-fungsi-nya suatu elemen ada perbedaan antara ahli yang satu dengan yang lain. Malinowski misalnya melihat suatu elemen berfungsi lebih didasari oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan individual (basic need) yang kemudian berdampak pada sosialnya, sementara ahli lain seperrti Brown melihat fungsi tersebut lebih sebagai upaya memenuhi kebutuhan sosial (kelompok), sehingga individu secara otomatis akan “terkekang” untuk mengikuti aturan tersebut.
Karena cara pandang tentang fenomena bersifat holistik (menyeluruh) maka dalam penelitian, fenomena tidak bisa dipandang berdiri sendiri, tetapi harus dipandang saling terkait satu sama lain. Disamping itu, kesimpulan bahwa suatu elemen berpengaruh terhadap fenomena yang ada tidak bisa diputuskan sedemikian rupa tanpa analisis terhadap keterkaitannya dengan elemen lainnya

Contoh : Rendahnya partisipasi dalam gotong royong tidak bisa begitu saja disimpulkan karena faktor rendahnya pendidikan, tetapi harus di analisis lebih jauh, jangan-jangan rendahnya pendidikan tersebut berkait dengan kepercayaan, atau berkait dengan status sosial, berkait dengan bentuk program dan lain-lain.

2. Cara Pandang Kognitif

Pemikiran kognitif berangkat dari pemikiran etnosains yang memandang bahwa segala fenomena yang ada dan berkembang dalam masyarakat pada prinsipnya akan selalu dipahami secara berbeda oleh setiap komunitas karena sistem pengetahuan yang mereka miliki dan terima juga berbeda. Dengan demikian, fenomena yang berkembang dalam masyarakat tersebut harus dilihat sebagai aplikasi dari sistem pengetahuan yang dimiliki oleh setiap komunitas. Oleh sebab itu, Edmund Hussel mengatakan bahwa fenomena sebenarnya bukanlah kesatuan yang sesungguhnya (no substan¬tial unity), dan juga tidak bersifat kausalitas (no causality). Fenomena adalah sesuatu yang sudah ada dalam persepsi dan kesada¬ran individu yang sadar tentang sesuatu hal (benda, situasi, dan lain-lain).
Perbedaan perspektif dalam melihat sebuah fenomena ini, akhirnya cara pandang tentang sebuah kebudayaan yang telah lama berkembang dalam pemikiran kelompok ahli sebelumnya termasuk dalam pemikiran sturuktural fungsinal juga mengalami perombakan. Kalau dalam pemikiran sebelumnya, kebudayaan lebih ditekankan pada sistem sosial (social system), maka kebudayaan dalam perspektif pemikiran fenome¬nologis, kebudayaan lebih ditekankan pada sistem ide (cultural system) sehingga sistem ide atau gagasan inilah yang mengendalikan perilaku manusia di dalam sistem sosialnya.
Dalam konteks ini, sistem pengetahuan (kognitif) dipahami sebagai milik bersama yang dikomunikasikan pada setiap individu lewat proses belajar, baik lewat pengalaman, interaksi sosial maupun interaksi simbolis. Harus dipahami bahwa setiap individu anggota kelompok sosialnya tidak akan mampu menyerap secara keseluruhan nilai-nilai, ide-ide dan pengetahuan yang ada dan berkembang disekitarnya. Hal ini disebabkan adanya pe*rbedaan psikologis, pola asuh, interaksi yang dilakukan, dan tingkat kemampuan dalam menyerap pengetahuan pada setiap individunya. Perbedaan ini berimplik¬asi pada model-model pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak secara keseluruhan akan dijadikan pedoman atau pegangan, tetapi dalam penggunaannya biasanya hanya berpedoman pada salah satu atau sejumlah model saja. Pemilihan model-model pengetahuan sebagai pedoman dalam bertindak ini secara selektif disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang dihadapi. Model-model penge-tahuan tertentu yang dimiliki oleh masing-masing individu pemilik kebudayaan tersebut sering disebut sebagai pengetahuan budaya — jadi bukan kebudayaan, tetapi pengetahuan individu tentang budaya tertentu.
Aplikasi pemikiran demikian, maka dalam proposal dan laporan penelitian, si peneliti akan selalu mencoba mencari jawaban “mengapa sebuah fenomena berkembang sedemikian rupa” dan jawabannya ada dalam “kognitif kelompok sosial”. Untuk itu tugas peneliti adalah mencari tahu “seperti apa sistem pengetahuan (kognitif) kelompok sosial” tersebut. Untuk menemukan kognitif tersebut (berarti sifatnya abstrak), maka para ahli etnosains merujuk pada sebuah cara yaitu memahami bahasa yang berkembang dan dikembangkan oleh kelompok sosial tersebut berkenaan dengan fenomena yang ada. Ini diasumsikan karena bahasa adalah cerminan dari sistem pengetahuan itu sendiri. Dengan demikian dalam bahasa akan selalu termuat berbagai cara pandang tentang sesuatu (fenomena) yang biasanya berbentuk klasifikasi. Artinya penyebutan tentang sesuatu dengan demikian diasumsikan akan berdampak pada perlakuan yang berbeda apabila penyebutannya juga berbeda, sebaliknya apabila penyebutannya sama walaupun bendanya berbeda akan berdampak pada perlakuan yang sama.

Contoh : Ketika orang Minangkabau menyebut mangga dengan demikian perlakukan terhadap mangga akan berbeda apabila dia menyebut ambacang.
: Ketika orang Melayu menyebut nangka akan berbeda perlakuannya apabila dia menyebut cubadak atau cempedak, yang bagi orang Minangkabau justru istilah tersebut dianggap sama.

Melihat istilah (bahasa) saja tidak cukup, oleh sebab itu cara lain yang sering dipakai secara bersamaan adalah dengan menemukan Pola (pattern) tentang fenoemena yang diteliti. Menurut Keesing, ada dua bentuk pola yaitu Pola Dari (pattern of) dan Pola Bagi (patten for). Pola Dari adalah segala sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang terus berulang (terpola) dari fenomena yang berkembang. Sementara Pola Bagi adalah segala sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang terus berulang dari kognitif seseorang. Tugas peneliti adalah memahami Pola Dari suatu fenomena dalam upaya menemukan Pola Bagi dari fenomena tersebut.
Pemikiran tentang cara menemukan Pola ini ditransformasi dari cara linguistik dalam memahami bahasa khususnya tewntang bunyi kata (fonem) yaitu cara pandang Fonemik dan cara pandang Fonetik. Cara pandang fonemik yaitu dengan mendengar dan memahami fenomena bahasa dengan mendengar langsung dari penutur bahasa, yang dalam kajian budaya akhirnya ditransformasi menjadi cara pandang Emik yaitu dengan cara memahami fenomena sosial-budaya menurut cara pandang (kognitif) kelompok kajian. Sementara cara pandang Fonetik yaitu memahami bunyi bahasa dengan cara menggunakan kode-kode linguistik yang telah ada sehingga bunyi bahasa sebenarnya bisa dituliskan dan diinformasikan kepada pembaca, yang dalam kajian budaya ditranformasi menjadi cara pandang Etik yaitu cara memahami fenomena sosial-budaya dengan

3. Cara Pandang Simbolik

Cara pandang simbolik pada awalnya berkembang dari pemikiran kelompok hermeneutics (tafsir) yang berasumsi bahwa setiap fenemona yang ada pada prinsipnya telah ditafsir ulang oleh setiap individu atau kelompok sosial. Hasil penafsiran ulang itulah yang kemudian membuat mengapa fenomena yang ada akan selalu berbeda baik dalam kelompok sosialnya sendiri apalagi dengan kelompok diluar dirinya. Cara pandang demikian akhirnya melihat bahwa setiap fenomena itu sendiri pada prinsipnya akan selalu berujud simbolik karena pemaknaannya akan sangat tergantung pada penafsiran individu atau kelompok sosial tersebut.
Geertz mencoba membedakan antara simbol (symbol) dengan tanda (sign) dan dengan ikon (icon). Menurut Geertz simbol adalah segala sesuatu yang memiliki arti ganda sehingga hasil pemaknaannya cenderung tidak mencerminkan arti fenomena yang sebenarnya. Tanda adalah segala sesuatu yang mengacu pada makna yang sebenarnya sehingga tanda cenderung memiliki arti yang relatif sama dengan fenomena yang diacunya.Sementara Icon mengacu pada simbol-simbol dan tanda-tanda keagamaan dan bersifat religius, sehingga pemaknaannya cenderung mengacu pada fenomena keagamaan.
Contoh : Lampu Merah, Hijau dan Kuning di persimpangan jalan akan menjadi simbol apabila dimaknai oleh pengendara motor dan mobil, karena Merah berarti berhenti, hijau berarti jalan terus, dan kuning berarti berhati-hati. Tapi lampu yang sama akan menjadi tanda a[pabila dimaknai oleh pejalan kaki, karena merah, kuning dan hijau tidak ada perbedaan, karena hanya mengisyaratkan warna tertentu saja. Sebaliknya warna Hijau juga bisa menjadi icon apabila dimaknai secara politis, dimana hijau berarti PPP dan merah berarti PDI-P dan kuning berarti Golkar. Hal yang sama juga berlaku dengan tanda silang (salib) akan menjadi icon bagi umat kristiani, akan menjadi tanda tambah bagi pelajar dan mahasiswa, dan akan menjadi simbol bagi kelompok neo-Nazi.
Ini berarti kajian tentang simbolik akan mencoba memahami sejauhmana sesuatu atau fenomena tersebut dimaknai sebagai suatu simbol tersendiri bagi kelompok tertentu. Tugas peneliti mencoba memahami hasil pemaknaan terhadap simbol-simbol yang ada. Artinya segala sesuatu yang tampak dihadapan peneliti tidak dilihat dalam kacamata si peneliti (etnocentris) karena pemaknaannya akan berbeda, tetapi harus dimaknai berdasarkan kelompok sosial itu sendiri. Cara yang umum dipakai adalah menemukan sejauhmana sesuatu atau fenomena tersebut menunjuk pada simbol-simbol tertentu, dan untuk kemudian sejauhmana simbol tersebut dimaknai.

4. Cara Pandang Strukturalisme Levi-Strauss

Seperti namanya, cara pandang strukturalisme ini dikembangkan oleh ahli struktural Perancis yang bernama Levi-Strauss. Cara pandang Levi-Strauss ini sebenarnya didasari oleh pemikiran struktural-fungsional sebelumnya yang kemudian dikembangkan dengan meniru gaya dan analisis para ahli Linguistik Amerika (diantaranya de Saussure dan Jacobson). Levi-Strauss melihat bahwa para ahli struktural-fungsional yang ada selama ini hanya sampai pada menemukan struktur pada tahapan empirik saja, tetapi belum sampai melihat struktur yang terdalam (deep structure). Untuk lebih mampu memahami fenomena yang sebenarnya maka upaya menemukan struktur terdalam menjadi sangat penting. Ini berangkat dari pemikiran bahwa struktur empirik akan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sehingga struktur yang ada akhirnya bersifat sementara, namun struktur yang sebenarnya bisa ditemukan dengan cara menemukan struktur terdalam tersebut. Artinya apabila si peneliti mampu menemukan struktur terdalam tersebut, maka fenmona perubahan yang terjadi akan bisa dibaca arah dan fokusnya.
Salah satu cara untuk menemukan struktur terdalam tersebut, maka Levi-Strauss menawarkan cara yang umum dilakukan oleh para ahli linguistik dalam mengkaji struktur bahasa selama ini. Dalam linguistik dikenal ada pendekatan paradigmatis dan pendekatan sintagmatis. Cara pandang sintagmatis adalah cara pandang untuk menemukan struktur bahasa dengan cara memahmi makna suatu kata sesuai dengan rangkaian kalimat yaitu kata yang mendahului atau kata yang mengakhirnya. Sementara paradigmatis yaitu cara memahami bahasa dengan mempertimbangkan unsur diluar bahasa itu sendiri seperti mimik wajah, intonasi dan lain sebagainya. Cara lain dalam memahami struktur bahasa adalah dengan cara pandang parole dan langua. Parole adalah cara melihat bahasa dengan menekankan pada style individual, sementara langua yaitu dengan cara melihat pada style kelompok (logat dan makna kata kelompok).
Cara pandang dalam linguistik inilah yang kemudian oleh Levi-Strauss di transformasikan dalam mengkaji masalah sosial-budaya. Cara pandang sintagmatis dan cara pandang parole lalu disebutnya dengan cara pandang diakronis, sedangkan cara pandang paradigmatis dan langua disebutkan dengan cara sinkronis. Cara pandang sinkronis adalah memahami fenomena sosial-budaya dengan cara memahami aspek-aspek yang terkait dengan fenomena tersebut sesuai dengan apa yang diungkap dan berkembang dalam masyarakat. Sedangkan cara pandang sinkronis adalah cara memahami fenomena sosial-budaya dengan cara memahami aspek-aspek di luar fenomena itu sendiri atau melihat proses sebab-akibat atau dampak dari fenomena lain di luar fenomena yang ada.

Contoh dalam Linguistik :
sintagmatis / parole : “penduduk kota Padang ada sekitar 250.000 jiwa. Makna kata jiwa disini akan berbeda apabila dalam kalimat “Amir sakit jiwa” atau dalam kalimat “jiwa nya melayang”.
paradigmatis / langua : “kalau tidak mau mendengarkan, ya silahkan saja diteruskan, tapi kalau ada apa-apa jangan salahkan saya” disini mungkin akan ada tekanan suara atau mimik tertentu, sehingga dia bisa merubah makna kalimat.

Contoh dalam kajian sosial-budaya :
diakronis : Arisan pada kelompok buruh PT Lembah Karet ternyata adalah simbol kekuasaan karena disini akhirnya Direkturnya susah untuk melakukan PHK pada karyawannya yang seharusnya memang harus di PHK
sinkronis : Arisan sebagai simbol kekuasaan bagi para buruh tidak bisa dilihat sebagai upaya menekan direktur perusahaan saja, tetapi ternyata terkait dengan adanya kelompok LSM yang berusaha membelajarkan kaum buruh akan pentingnya mengontrol kekuasaan direktur. Adanya gerakan LSM ini juga tidak bisa begitu saja diterima dan beraktifitas tanpa dikaitkan dengan era reformasi.

C. SUMBER REFERENSI

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. Antropologi di Indonesia oleh Ahli Antropologi Indonesia: Perspektif Epistemologi. Makalah Lokakarya Perilaku Manusia Dibahas dari Perspektif Kajian Ilmu Sosiologi, Antropologi, Psikologi dan Sjerah di Indonesia. UGM Yogyakarta 22 Agustus 1994.
Alam, Bachtiar. “Globalisasi dan Perubahan Budaya: Perspektif Teori Kebudayaan” dalam Antropologi Indonesia No.54/XXI. 1998.
Arifin, Zainal. “Konsep Kebudayaan dalam Antropologi” dalam Jurnal Antropologi No.3/II. 1999.
Brown, Radcliffe A.R. Structure and Function in Primitive Society. Essays and Addresses. London: Routledge & Kegan Paul. 1952.
Ember & Ember. “Konsep Kebudayaan” dalam T.O.Ihromi (eds). Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia. 1981. hal. 13-32.
Geertz, Clifford. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius. 1992.
Irianto, Sulistyowati. “Konsep Kebudayaan Koentjaraningrat dan Keberadaannya dalam Paradigma Ilmu-Ilmu Sosial” dalam Masinambow (eds) Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1997.
Keesing, Roger M. “Theory of Culture” dalam Ronald W. Casson (eds). Language, Culture and Cognition. Anthropological Perspectives. New York: MacMillan Publishing Co.Inc. 1981. hal. 42-66.
Ortner, Sherry B. “Theory in Anthropology since the Sixties” dalam Comparative Studies in Society and History. An International Quarterly Vol. 26/1. Cambridge: Cambridge University Press. 1984. hal.126-166.
Spadley, James. The Ethnographic Interview. New York: Holt, Rinehart and Winston. 1979.
Suparlan, Parsudi. “Manusia dan Kebudayaan dan Lingkungan. Perspektif Antropologi Budaya” dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia No 1-3/IX. 1980. hal. 236-240.
Turner, Victor. 1970. The Forest of Symbol: Aspects of Ndebu Ritual. New York: Cornell University Press.