MAKANAN SEBAGAI SIMBOL BUDAYA[1]

Oleh : Zainal Arifin[2]

A. Pendahuluan

Masyarakat Minangkabau adalah salah satu masyarakat yang telah berhasil mengembangkan pengolahan berbagai sumber daya alamnya menjadi berbagai jenis makanan. Tetapi yang menarik, jenis makanan berbahan dasar daging justru menjadi jenis makanan yang lebih dominan. Ini menarik, karena masyarakat yang mengembangkan budaya pertanian dan perdagangan, justru menjadikan daging sebagai konsumsi utamanya.

Makanan sebagai material budaya dapat kita pahami dalam dua sisi, yaitu makanan sebagai sesuatu yang telah menjadi tradisi budaya dalam kehidupan sebuah masyarakat (life culture), dan makanan sebagai gaya hidup yang dijadikan sebagai suatu budaya yang dikembangkan (style culture). Apabila budaya kehidupan sifatnya diwariskan dari generasi ke generasi (generic), maka gaya hidup sebagai budaya sifatnya dikembangkan secara kontekstual (differential).

Artikel ini sendiri mencoba memahami mengapa jenis makanan berbahan dasar daging (samba) justru menjadi konsumsi utama masyarakat Minangkabau, dan potensi yang bisa kita kembangkan dari fenomena tersebut.

B. MAKANAN SEBAGAI SIMBOL BUDAYA

Pada masyarakat Minangkabau, berbagai jenis bahan yang berasal dari alam (tumbuhan dan hewani) telah mampu diolah menjadi berbagai jenis makanan. Apabila jenis bahan tumbuhan lebih banyak diolah menjadi jenis makanan ringan (kue dan cemilan), sementara jenis bahan hewani lebih banyak diolah menjadi lauk-pauk (samba). Kue dan cemilan, karena sifatnya lebih sebagai makanan tambahan (cemilan) dan makanan penutup (parabuang), maka ia akhirnya lebih dikenal melalui informasi wisata atau melalui oleh-oleh yang dibawa wisatawan ketika berkunjung ke ranah Minangkabau. Sementara samba, karena lebih banyak tampil dalam keseharian masyarakat, maka orang Minangkabau akhirnya lebih banyak dikenal melalui samba yang dikonsumsinya. Ini semakin menguat melalui Rumah Makan Padang yang banyak tersebar di seluruh pelosok tanah air.

Ini menarik, karena secara ekologis, idealnya masyarakat pengkonsumsi daging adalah masyarakat yang lebih mengembangkan budaya peternakan sebagai mata pencaharian utamanya. Sementara masyarakat yang lebih mengembangkan budaya pertanian justru akan menjadi masyarakat pengkonsumsi sayuran. Ini justru berbeda dengan masyarakat Minangkabau yang mengembangkan budaya pertanian dan perdagangan, justru sebaliknya dimana daging akhirnya menjadi konsumsi utama. Bahkan sulit kita temui di setiap rumah makan Minangkabau yang akan menyuguhkan berbagai jenis sayuran, kecuali yang umum terlihat adalah pucuak parancih (daun singkok). Artinya ada sesuatu yang berbeda (lokalitas) mengapa orang Minangkabau yang mengembangkan budaya pertanian, justru menjadi masyarakat pengkonsumsi daging.

Mengikuti pemikiran ahli materialisme budaya, kecenderungan ini lebih disebabkan karena pada masyarakat petani, dimana sayur melimpah, membuat daging akhirnya menjadi barang (material) yang langkah dan makanan dari bahan daging akhirnya menjadi jenis makanan yang bergengsi. Walaupun hewan ayam, itik dan bebek cenderung menjadi hewan peliharaan di masyarakat petani, namun jenis hewan ini bukan menjadi konsumsi harian, tetapi akan dikorbankan dalam peristiwa-peristiwa penting seperti dalam upacara. Semakin penting dan besar upacara yang dilakukan, maka jenis hewan yang dikorbankan pun adalah jenis hewan yang langka untuk didapatkan. Langkah di sini, bisa dalam artian jumlahnya yang besar (ayam dan ikan) atau hewan yang secara ekonomi sulit didapat dan dipelihara (kerbau, sapi dan kambing).

Berangkat dari pemikiran tersebut, maka kita bisa berasumsi bahwa daging dalam konteks masyarakat Minangkabau, pada awalnya adalah jenis makanan langkah dan bergengsi, yang kemudian diteruskan dari generasi ke generasi (generic culture). Oleh sebab itu, dalam setiap upacara yang dilakukan, kita bisa melihat dimana jenis makanan olahan dari daging ini (samba) tidak saja sekedar sebagai santapan belaka, tetapi juga menjadi simbol untuk menunjuk identitas seseorang. Ini akan kita temukan misalnya dalam hidangan upacara, dimana ada sebuah jenis makanan khusus (kapalo jamba) yang dihidangkan. Kapalo jamba haruslah terbuat dari bahan daging khusus (kepala hewan) atau daging yang dimasak dan diolah secara khusus (ayam singgang atau gulai ikan utuh). Sesuai dengan istilahnya — kapalo jamba (kepala hidangan) — maka jenis makanan ini memang harus berbeda dengan jenis makanan lainnya, karena peruntukannya juga berbeda (untuk pemimpin atau orang yang dihormati).

Tradisi makan daging dalam masyarakat Minangkabau ini disisi lain juga telah melahirkan konsep makan yang berbeda dengan konsep makan di masyarakat lain. Makan akhirnya lebih dimaknai sebagai tradisi makan nasi beserta lauk-pauknya (samba), sehingga belum dianggap makan apabila hanya makan nasi (nasi goreng) atau nasi dengan sayuran (lontong atau mie rebus), atau makan daging tanpa nasi (KFC). Konsepsi inilah yang membuat berbagai jenis makanan siap saji atau jenis makanan yang tidak menggunakan samba sebagai bagian dari makanannya, relatif kurang berkembang di masyarakat Minangkabau, dan kalaupun bertahan, cenderung hanya dinikmati oleh sekelompok orang tertentu saja.

Pada satu sisi, kegemaran makan daging ini, di satu sisi telah membuat orang Minangkabau akhirnya menjadi salah satu etnis yang cukup banyak menginap penyakit kolestrol dan jantung. Namun di sisi lain, makan jo samba ini adalah potensi positif yang bisa kita kembangkan lebih jauh, karena kekhasan ini sudah mengakar di masyarakat Minangkabau (life culture). Tidak bisa kita pungkiri ternyata dalam banyak kasus label “masakan padang” menjadi jaminan “mutu” bagi kebertahanan usaha rumah makan di banyak daerah di Indonesia. Bahkan di kota Padang sendiri, berbagai jenis makanan siap saji justru tidak banyak yang bisa bertahan, atau karena memang makanan siap saji ini, bagi masyarakat Minangkabau lebih dikonsepkan sebagai makanan selingan belaka ?

Namun kita juga tidak bisa memungkiri bahwa tidak semua rumah makan berlabel “masakan padang” (termasuk di kota Padang sendiri) bisa bertahan lama. Ketidakbertahan ini berkemungkinan karena terjadinya perubahan tampilan, rasa, penyajian dan pelayanan (disamping masalah harga) yang tidak lagi mengikuti selera pasar. Dalam banyak kasus ketika rumah makan Padang mulai dijejali banyak konsumen, maka ada kecenderungan upaya mempertahankan rasa, tampilan dan penyajian mulai goyah. Oleh sebab itu, upaya mempertahankan selera pasar (style culture) juga menjadi perlu bagi pengembangan potensi makan daging ini.

Belajar dari fenomena di atas, maka upaya kita untuk mempopulerkan dan menambah nilai ekonomi berbagai jenis makanan yang ada di masyarakat kita (Minangkabau), haruslah terus menggali potensi makanan sebagai life culture. Namun disisi lain kehadiran makanan ini juga harus mempertimbangkan style culture yang sedang berkembang (kontekstual). Melalui cara pandang ini maka kita juga sebenarnya bisa mengembangkan berbagai jenis cemilan atau kue (parabuang) yang selama ini banyak diposisikan sebagai jenis makanan selingan belaka. Padahal secara budaya, parabuang sebenarnya adalah satu kesatuan dengan daging (samba) dalam setiap hidangan-hidangan utama. Dalam berbagai konteks hidangan resmi seperti upacara misalnya, keberadaan hidangan daging (kapalo jamba) justru harus disertai dengan parabuang. Apabila kapalo jamba sering menjadi simbol dari sebuah penyatuan, maka parabuang akhirnya menjadi simbol dari proses dan keinginan untuk menyatu. Bahkan pada banyak kasus, terkadang kehadiran kapalo jamba dan parabuang ini, juga akan disertai dengan buah-buahan seperti pisang yang dianggap sebagai simbol bahwa telah terjadi sebuah kesepakatan.

C. Pustaka

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, Welhendri. 2001. Matrilokal dan Status Perempuan dalam Tradisi Bajapuik. Yogyakarta: Galang Press.

De Jong, P.E. de Josselin. 1960. Minangkabau and Negeri Sembilan. Socio-Political Structure in Indonesia. Jakarta: Bhratara.

Mitchell, Istutiah Gunawan. 1969. “The Socio-Cultural Environment and Mental Disturbance: Three Minangkabau Case Histories” in Indonesia No.7 (April) p.123-137.

Semedi, Pujo. “Evolusi Tekhnologi Subsistensi” dalam Humaniora  No. I tahun 1995, p. 62-76.

Tanner, Nancy. 1969 “Disputing and Dispute Settlement Among Minangkabau of Indonesia” in Indonesia No.8 (April). p.21-68.


[1] Makalah ini disampaikan dalam seminar “Pelestarian Makanan Tradisional di Era Globalisasi” yang diadakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang, pada tanggal 2 Desember 2009.

[2] Staf pengajar di Jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas, Padang